Selasa, 19 April 2016

Cerita KKN Part 2 ~ Gadis Pemberani

“Teh, mau saya cariin tumpangan motor buat ke atas?” tawar salah satu dari mereka ketika mendengar suara motor yang akan melintas di jalur yang kami lewati. ketika itu kami tengah berada di tengah hutan yang masih asri. Tidak ada orang selain kami dan beberapa pengendara motor yang sesekali lewat. Gue menggeleng walaupun tawaran itu begitu menggoda.

“Bentar lagi sampai, Teh. Ayo semangat, Teh!” sorak yang lain.

Beberapa menit kemudian, barulah gue memiliki tenaga untuk kembali melanjutkan perjalanan. Ternyata ga berapa lama kemudian, kami sampai di ‘pintu masuk’ Curug Gendang. Iya pintu ini sifatnya gaib, tak terlihat.

Gadis-gadis ini menuntun kami untuk berjalan dengan 1 barisan karena jalan yang akan kami lalui adalah jalan setapak. Yah jalan setapak yang cukup licin bagiku efek pakai croks botak. Tanaman atau apapun yang berada di sisi kanan jalan setapak ini menjadi sasaran empuk gue untuk berpegangan. Karena di sebelah kiri jalan setapak, tepat jurang menganga lebar siap memangsa jikalau kami tak hati-hati.

Percayalah. Jika waktu bisa diulang kembali, gue bakal lebih memilih istirahat di rumah daripada menantang maut kayak gini. Apalagi berkali-kali gue kepeleset dan hampir jatuh. Kesel. Iya kesel. Kenapa ini jalanan licin banget. Kenapa ini sendal botak. Kenapa huhuhu.

“Ayo, Teh ikutin saya. Saya pegangin,” gadis dengan baju berwarna biru ini menawarkan diri dan langsung memegang tangan gue untuk dituntun. Gadis ini bahkan mengambil posisi di sebelah kiri gue, yang artinya jika gue ga sengaja terpeleset, gadis ini yang akan jatuh duluan. Dia melindungi gue seperti ini dan membuat gue merasa mengenalnya sudah lama.

“Ini Teh injek batunya,” atau “Ini teh yang ga licin” atau “Ini Teh jangan yang itu licin,” atau “Teh awas jangan pegangan yang itu ada durinya,” adalah nyanyian sepanjang gadis ini menuntun gue. Haru bener deh. Karena dia begitu memerhatikan kemalangan gue dan memutuskan membantu gue padahal beberapa kali gue menemukan nada getir cemas di dalam suaranya.

Alhamdulillah kami sampai di tempat tujuan dengan selamat. Ajaibnya, ketika mata gue bertatapan dengan si air terjun, lelah gue seketika hilang. Satu per satu teman gue mulai masuk ke air terjun, gue jadi orang kesekian yang akhirnya memutuskan untuk ikut terjun. Dengan bawelnya gue memanggil nama Oca untuk menuntun gue yang pada akhirnya berada di dekat Oca justru 'merugikan' gue, karena di akhir permainan air kami Oca sempat panik dengan derasnya arus yang diciptakan oleh air terjun dan dia mendorong gue ke dalam air. Bagus. Beruntung gue orangnya sabar wkwk.

Sebenarnya gue gabisa untuk ga merasa cemas memikirkan nasib gue keluar dari curug ini. Berharap cemas gadis dengan baju biru itu, mau menuntun gue kembali, setelah tahu betapa merepotkannya menuntun seorang gue. Beruntung, ketika teman-teman gue mulai siap untuk menuruni jalan setapak, si gadis baju biru dengan sigap berada di dekat gue. Gue merasa aman saat itu walau hanya diawasi oleh gadis yang jauh lebih muda dan lebih kecil dari gue.

Lagi dan lagi, terpeleset karena sandal yang gue pakai licin di bagian dalam dan luar. Melihat itu gadis dengan baju biru memegangi lengan gue. Gadis lainnya menawarkan diri untuk memakai sandal gue yang super licin dan membiarkan gue memakai sandalnya yang tidak licin. Gue menyetujuinya

Perjalanan pulang tetap tidak kalah serunya dengan perjalanan saat berangkat tadi. Karena gue harus bolak-balik bertukar sandal dengan gadis baju biru karena sandal gue licin. Begitu kami bertukar sandal dan sandal yang gue pakai kembali licin, sandal yang ada padanya sudah siap dipakai dan keadaannya pun tidak licin. Jadi pertanyaannya, ada apa dengan kaki gue???

Belakangan gue tahu gadis dengan baju berwarna biru namanya Samnah. Gadis cantik khas suku sunda nan pemberani. Begitu ramah dan berjiwa sosial. Dengan selamatnya nyawa gue berkat banyak bantuan Samnah, di hari-hari berikutnya gue semakin dekat dengan Samnah.

Sampai Samnah berhasil membuat gue menjadi orang terakhir yang naik di bus penjemputan mahasiswa KKN UNJ. Samnah tak kunjung berhenti menangis, terlihat begitu takut dilupakan. Samnah, mana bisa Teteh lupa sama Samnah???

This part I wrote for you, Samnah. Adik Teteh yang paling pemberani. Semangat sekolahnya, cepet lulus, cepet ke Jakarta, Teteh siap jadi Tour Guide pribadi-nya Samnah di Jakarta. Sehat terus yaa Sam! Teteh sayang sama Samnah...

Cerita KKN Part 1 ~ Curug Gendang

Sebagai mahasiswi dari jurusan Pendidikan Administrasi Perkantoran di Universitas Negeri Jakarta, Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu program kuliah yang harus gue terima dengan penuh rasa ikhlas. Sebulan harus tinggal di daerah terpencil yang gatau gimana sinyalnya, bakal tinggal di rumah yang seperti apa, lingkungan yang seperti apa, teman seatap yang seperti apa. Semua hal itu sedikit membuat gue takut dan berharap bisa meng-skip KKN.

Tapi semua ketakutan gue hilang seketika begitu gue tau desa apa yang gue tempatin. Desa Sukarame di Kecamatan Carita, Kab Pandeglang, Banten, yang ternyata merupakan desa dengan banyak tempat wisata. Belum lagi tempat tinggal gue selama di Sukarame yang super nyaman dan dapet bonus kelucuan Ica -cucu dari pemilik rumah- hehe.

Mau ke pantai??? Tinggal nyebrang ke depan rumah. Mau ke sawah??? Di belakang rumah ada. Mau ke bendungan??? Atau mau ke air terjun??? Ada semua di sini hehe. Alhamdulillah rezeki anak salehah haha.

Minggu kedua ada di Sukarame, gue dan teman satu kelompok berencana pergi ke air terjun di Sukarame namanya Curug Gendang sebagai refreshing setelah lelah mengerjakan program. Kami janjian buat pergi bareng dengan anak-anak SMP dari Yayasan Al-Musyarafah.

Yap kalau gue gak salah, ini adalah perjalanan wisata outdoor gue yang ke-2 tanpa orangtua gue. Tapi ini jelas lebih menantang karena orang di luar Banten mungkin tidak mengetahui lokasi wisata Curug Gendang ini. Sekaligus merupakan tempat wisata yang berada di pedalaman Carita yang mungkin petugas-petugasnya pun tidak begitu mementingkan keselamatan pengunjung. Maklum.

Kami berangkat sekitar pukul 10 pagi dan ternyata anak-anak SMP yang pergi bersama kami semuanya perempuan. Ada juga beberapa diantara mereka yang baru pertama kali ke Curug Gendang. Kami diwanti-wanti oleh pemilik rumah dan tetangga sekitar agar jangan sampai terpisah, sepakati waktu istirahat, turuti pantangan yang ada di sana. Mereka bilang lokasi wisata ini masih sakral.

Gue dengan pede-nya dan memang sudah khas gue, gue pakai sepatu sandal croks coklat kesayangan gue yang udah botak bin dekil. Perjalanan yang ditempuh sekitar 6-9 km membuat kami mencuri kesempatan untuk mengobrol dengan anak-anak perempuan SMP ini, atau selanjutnya sebut saja gadis-gadis.

Gadis-gadis ini cukup perhatian dan mereka memiliki jiwa sosial yang patut diacungi jempol. Apalagi saat gue -anggap saja yang terlemah- megap-megap kehabisan napas karena jalanan menanjak yang super sadis. Gue pun sangsi bisa lewat jalan tanjakan itu kalau Oca -temen 1 kelas gue- gak nuntun, atau geret, gue pakai ranting. Jangan dibayangkan jalanannya mulus, jalanan ini sebenarnya merupakan kaki bukit yang sudah dibuat jalur oleh warga sekitar. Gue merasa menang melewati kaki bukit itu walaupun masih dalam keadaan megap-megap kehabisan oksigen dan belum bisa melanjutkan perjalanan. Gadis-gadis ini begitu semangat sampai menularkan semangatnya ke gue. Sayangnya, rasa semangat yang mereka tularkan ke gue ga direspon baik sama kondisi fisik gue. Mereka bahkan rela beristirahat setiap gue bilang, “ntar dulu ga kuat,” lalu duduk sambil memijit kepala gue.

Gadis-gadis ini mungkin tak tega melihat gue yang ga karuan keadaannya. Apalagi ga ada cowok yang ikut ke Curug Gendang bersama kami. Raut wajah beberapa diantara mereka mulai cemas. Entah mencemaskan keadaan gue atau mencemaskan kapan mereka akan sampai di tujuan karena keberadaan gue memang memghambat perjalanan mereka. Wkwk.

Bersambung... ;)

Selasa, 05 Januari 2016

Hipnotis



Lagi dan lagi kulihat spion sebelah kiri motornya. Yaa dia selalu mengatur spion kirinya untuk melihatku yang memeluknya di belakang dan dengan begitu aku juga dapat melihat wajahnya. Berbahayakah? Memang kami pernah mengalami kecelakaan bersama tapi bukan akibat spion kiri yang kami salah gunakan. Melainkan karena hal lain.

Ada kecelekaan truk. Itu yang menyebabkan dia telat menjemputku. Aku tak mempermasalahkannya. Itu benar. Walau sudah setahun lamanya kami bersama, melihat wajahnya saja sudah mampu menenangkan segala emosi tidak baik yang ada pada diriku.

"Kamu tau jalannya?"

"Tau ko tenang aja. Semalem aku udah ngapalin rutenya lewat google map."

Aku tertawa. Entah untuk hal apa namun dia ikut tertawa bersamaku. Google map memang sudah menjadi teman kami jika ingin pergi ke suatu tempat. Maklum, kami sama-sama pendatang di Jakarta. Aku memeluknya lebih erat membuatnya tersenyum dan meremas gemas tanganku.

Aku mengangkat kepalaku yang bersandar di bahunya dan melihat sebuah jalan setapak di daerah yang kami lewati. Aku tak tahu ada dimana ini hehe. Ada tulisan menarik di depan jalan setapak itu. 'Penginapan Mawar' yang ditulis dengan begitu apik.

"Kenapa?" Tanyanya membuyarkan pikiranku. Ternyata secara tidak sadar aku melepas pelukanku. Aku memeluknya lagi.

"Kita ada dimana mas?"

"Sekitar 10 menit lagi puncak,"

***

Kami menghentikan motor di dekat tulisan 'Penginapan Mawar' setelah kami kelelahan menghabiskan waktu di puncak dan memutuskan untuk menginap di penginapan ini sesuai permintaanku. Entah kenapa aku begitu tertarik dengan penginapan ini. Mungkin karna kealamiannya. Jalan setapak dengan pemandangan pohon di sebelah kanan dan kiri dan beberapa tanaman hias, juga lampu penerang.

"Ayo!" Ajaknya sambil merekatkan jarinya di jariku. Aku tersenyum dan mengangguk. Kami hanya perlu berjalan 50 meter untuk mencapai penginapannya. Ada beberapa orang yang jalan di depan kami dan saat aku menoleh ke belakang, ternyata ada beberapa orang juga yang berjalan di jalan setapak ini. Ternyata penginapan ini memang banyak membuat orang tertarik.

"Kenapa?" Aku menggeleng tersenyum sambil sedikit mendongakkan kepalaku agar aku dapat melihat wajahnya. Yaa, dia jauh lebih tinggi dari aku. Dia mengelus kepalaku, ikut tersenyum juga.

Siapa yang sangka bahwa penginapan ini cukup besar. Tiga lantai dengan 30 kamar di setiap lantainya. Mereka bilang fasilitasnya cukup baik. Menggunakan AC, ada televisi, kamar mandi dengan pilihan air biasa atau air hangat, dll. Bahkan mereka menyediakan ruang tunggu yang sangat menyenangkan. Kita bisa karaoke-an, melihat pajangan foto alam yang ada di dinding, dan wifi yang sangat bersahabat. Sepertinya mereka benar-benar tahu cara memanjakan pelanggan.

Dia sudah mendapatkan 2 kunci kamar yang berbeda. Satu untukku dan satu untuknya. Aku melihat wajahnya, ada kesedihan di matanya. Aku mengerutkan kening.

"Ada apa?"

"Penginapan ini sedang penuh-penuhnya hari ini. Kita dapat kamar di lantai yang berbeda. Kamu mau di lantai 1 atau 2?"

Aku memilih lantai 2 dan dia segera mengantarku untuk mencapai tangga. Tangga penginapan ini sangat klasik, terbuat dari kayu jati dan bersih dari debu. Aku memintanya untuk mengantarku cukup sampai tangga saja dan dia cukup menunggu di bawah, tidak perlu sampai depan pintu kamarku. Dia setuju.

Kunaiki tangga pertama, kedua, dan seterusnya. Tangganya benar-benar indah karena setelah dilihat dari dekat, tangganya memiliki ukiran. Ukiran jaman belanda. Benar-benar klasik.

"Aku tak sabar," ujar seorang wanita di depanku yang membuyarkan pikiranku. Aku menoleh ke arahnya. Kulihat tatapan wanita itu lurus ke depan dan dia sendiri. Aku mengabaikannya. Namun aku kembali menoleh ke arah wanita tersebut. Dan melihat orang-orang yang berada di depan wanita itu. Semuanya menatap lurus ke depan padahal di depan tidak ada apa-apa, hanya dinding dengan pajangan gambar seorang laki-laki.

Aku tak dapat mengendalikan rasa penasaranku. Laki-laki dalam pajangan itu duduk dalam sebuah kursi dan menatap lurus dan tajam ke depan. Ada yang aneh. Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke belakang. Semua. Semua orang yang sedang menaiki tangga menatap lurus ke arah depan, ke pajangan itu.

Dia! Dia masih di sana. Di dekat tangga pertama, masih menatapku. Seakan mengawasiku sampai aku benar-benar naik ke lantai 2. Tapi dia tidak seperti dia yang tadi pagi menjemputku dan mengajakku ke puncak. Dia berbeda tapi aku bisa mengenalinya lewat kemeja putih bergaris yang dipakainya. Hanya... kini wajahnya berlumuran darah. Begitu pula dengan wajah semua orang yang berada di lantai 1.

Baiklah... dimana aku sekarang???

Kamis, 24 Desember 2015

Bila Bukan Aku yang di Sisimu




Melihatmu menatap wanitamu dengan begitu dalam

Menandakan bahwa kau memang benar mencintaimu wanitamu

 

Mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir wanitamu dengan begitu seksama

Menandakan bahwa kau memang menghargai keberadaannya

 

Merasakan setiap sentuhan wanitamu dengan begitu senang

Menandakan bahwa kau memang menikmati waktumu berada di dekatnya

 

Kamu...

Yang tak pernah malu menggandeng tangan wanitamu kemanapun kaki kalian melangkah

Yang tak pernah lelah mendengar keluh kesah wanitamu

Yang tak pernah kehabisan akal menghadapi wanitamu yang bete tiba-tiba

Yang tak pernah menghindar saat wanitamu membutuhkan bantuanmu

Yang tak pernah balas memarahi ketika wanitamu memarahimu

Yang tak pernah berat hati untuk memberikan pelukan saat wanitamu bersedih

Yang tak pernah berhenti mencintai wanitamu dengan penuh kasih sayang

 

Bila bukan aku yang di sisimu

Sudah pasti aku cemburu pada siapapun wanita yang menempati posisi itu

 

Terimakasih karena mengizinkanku menjadi wanita yang ada di posisi itu

Merasakan keberuntungan ada di sisimu yang memperlakukan wanita dengan baik

Mendengar decak kagum dari sahabat yang mendengar cerita tentang kita

Mengukir senyuman bahkan ketika aku memikirkanmu hanya sekilas

Kau apakan aku??? Hmm???

 

Tulisan ini khusus banget untuk mengucapkan “HAPPY 1ST ANNIVERSARY”. Siapkah dengan tahun keduanya??? Hehe...

First date

First main ke rumah


Disuruh gaya sama yang moto
Piknik bareng :D

Kondangan bareng pertama dengan rambut gundulnya :D

Selasa, 10 November 2015

Belasan Terakhir


Malam ini langit gelap. Yaa namanya juga malam :p Tapi di hatiku selalu terang loh karena ada kamu. Wkwk prolog macam apah inih -,- Efek hiatus 3 bulan. Maafkan saya yaa.

Gue tiba-tiba gatel banget pingin nulis lagi. Walaupun belum ada ide akan nulis tentang apa. Bukannya selama 3 bulan ngilang ini ga ada apa-apa, tapi karena terlalu banyak yang ingin gue ceritain. Tapi menurut gue mungkin tulisan ini adalah tulisan pertama yang cocok dibagikan setelah gue tenggelam di dunia blog :D


Di ulang tahun gue yang ke-19 tahun lalu, gue sempat bertanya dalam hati “siapa yaa yang nantinya bakal ada di sisi gue di umur gue yang beranjak meninggalkan belasan tahun?” “Benar-benar menemani di belasan terakhir gue atau akan hilang sebelum gue berusia 20 tahun?”

Maklum, anak muda pemikirannya terkadang masih diracuni sama cerita cinta di FTV atau drama korea wkwk. Atau mungkin efek di awal gue menginjak umur 19 tahun, gue menemukan dambaan hati gue yang datangnya ga disangka-sangka.

Dia selalu ada di sisi gue, selalu ada saat gue butuh dia, selalu siap dimintai tolong, dia romantis, dia penyabar, dan mungkin yang paling bikin temen-temen gue iri adalah dia memperlakukan gue like a princess. Tapi yang paling bikin gue senang adalah dia selalu punya waktu buat gue.

“Kamu kalau pergi ke suatu tempat tapi gatau jalan pulangnya atau gatau mau naik apa, bilang sama aku. Biar aku jemput.” Ucapan kesal dan khawatir campur nahan emosi ini adalah ucapan yang paling gue inget. Waktu gue nekat sore-sore ke mall daerah Bekasi sama temen-temen gue dan begitu sampe, gue bener-bener gatau gue ada dimana. Sementara ga ada salah satu orang temen gue yang arah pulangnya sama kayak gue.

Sampai pada akhirnya, “aku besok mulai kerja di C*******. Senin-Sabtu. Bakalan ngontrak di sana. Kalau kita ketemunya tiap hari minggu aja gapapa kan?” Antara senang campur sedih. Tapi sebagai kekasih yang sedang belajar untuk menjadi baik hati (wkwk), gue mengiyakan dan mendukung keputusannya. Toh, masih Jabodetabek hehe.

Entah minggu keberapa, gue sempat berkeluh kesah tentang hubungan jarak agak jauh ini (wkwk). Dan dia dengan cepat berhasil menenangkan kegelisahan gue lewat pernyataannya, “sabar ya, cinta kita sedang diperkuat.”

Ah iya benar juga.

Cinta ini memang sedang diperkuat. Jika cinta selalu mendapat kemudahan...Jika cinta selalu berjalan lancar bak jalan tol... Jika cinta selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan... Jika cinta selalu sesuai dengan apa yang kita kehendaki... darimana kita bisa tahu bahwa cinta kita kuat?

Terimakasih, Mas. Sudah menemani belasan terakhirku dan mengajariku berbagai macam hal. Aku mengagumimu. Sangat.

Jumat, 31 Juli 2015

Aku Ngasih Kode Nih, Kamu Peka Dong!


Cerita ini berawal saat gue yang tinggal di Tangerang, mesti kudu banget ke kampus untuk ngambil pesenan lipstick. Ampun kakaaa, ini belanja lipstick yang terakhir ko [baca tentang lipstick]. Kampus gue ada di Jakarta Timur. Perjalanan Tangerang – Jaktim naik Transjakarta tuh makan waktu sampe 3 jam. Mumpung gue lagi ke Jakarta, janjianlah gue sama sang pujaan hati yang sudah sekian lama ga ketemu buat temu kangen (wkwk) dan doi ngajakin ketemu di Bekasi aje, ya okelah haha.

Gue janjian sama si tukang lipstick ini jam 10 ketemu di sekretariat Kelompok Sosial Pencinta Anak (KSPA), kebetulan kami satu organisasi. Ngaret-ngaretlah, kami baru ketemu sekitar jam 11.

Rencana gue, begitu gue dapet lipsticknya gue langsung cabut ke Bekasi. Kenapa buru-buru? Karena gue naik transjakarta dan perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam. Jadi kalau gue cabut jam 11 lewat, gue baru sampe di Bekasi jam 1 lewat kan. Dengan begitu durasi gue ketemu sama sang pujaan hati bisa lebih lama.

Rencana tinggal rencana. Halangannya ada aja. Baterai hape gue lobet, jadi gue harus ngecharge dulu di sekretariat. Sambil nge-charge, ngobrollah gue sama Yudi (tukang ojeknya anak KSPA nih, bolehlah silahkan dibooking). Ceritalah gue, kalau sebenernya gue buru-buru pingin ke Bekasi.

Go-jek...

Kata itu tiba-tiba terlintas di pikiran gue. Bagaikan bintang di kegelapan malam (alah apa ini :D). Tapi bener.... kayak pencerahan banget. Gue bisa lebih cepet nyampe Bekasi kalau naik Go-jek dibanding naik Transjakarta.

“Yaudah lu naik gojek aja. Nih pake kode gue, biar Go-jek credit lo nambah 50rbu.” Kata tukang ojeknya anak KSPA yang lagi ngerekomendasiin saingannya, Go-jek. Wahaha enak banget gue. Mungkin kalau pada saat itu gue ngaca, gue bisa liat sendiri betapa berbinar-binarnya mata gue.

Gue langsung download aplikasi Go-jek -> daftar -> masukin  kode -> dan Go-jek credit gue pun bertambah jadi 50rbu. Nah, pas gue ngorder dari Kampus A UNJ (Rawamangun) – Ganceng, Jatisampurna itu tarifnya cuma 10rbu. Wah masih promo nih, Alhamdulillah banget. Jadi gue lebih bisa cepet nyampe, tinggal duduk doang, ongkos pun ga keluar karena udah pake Go-jek credit.

Selain buat transport, Go-jek ini juga bisa buat nganterin makanan dan ngirim barang loh. Jadi cocok banget buat yang usaha dan mau ngirim barang, bisa lewat Go-jek. Cocok juga buat yang lagi kelaperan di suatu tempat tapi males keluar buat nyari makanan, pake Go-jek aja. Apalagi buat yang mau berpergian dan pingin lekas sampai, Go-jek lah :D Mumpung masih promo 10ribu sampai hari Minggu, 2 Agustus 2015.

Kalau udah ga promo, tapi pingin tetap murah? Bisaaaaa. Buat yang pertama kali menggunakan jasa Go-jek, coba klik menu Go-jek Credit dan segera masukin kode 542935157 dan otomatis Go-jek credit kamu akan bertambah sebesar 50ribu. Bisa juga dipakai saat promo ko. Nah, buat yang udah kesekian kali pakai jasa Go-jek sebarin aja kode Go-jek punya kamu. Kalau ada yang makai kode kamu, maka Go-jek credit kamu juga bakal nambah 50ribu. Think Win Win banget kan??? :D

Pelayanan Go-jeknya juga bagus. Walaupun gue harus nunggu abang Go-jeknya sekitar 20menit, begitu gue duduk di jok belakang, abangnya lancung tancap gas dan gapake nyasar. I’m coming, Mas :D Cukup 45 menit dan gue bisa bertatap muka dengan sang pujaan hati. Terimakasih abang go-jek :D

Nah, kan udah gue kasih kode tuh. Peka dong... dipake yaa kode gue. Jangan lupa, 542935157. Wkwks :D

Senin, 27 Juli 2015

Lipstick


 
Bukan. Ini bukan tulisan review sebuah atau bahkan beberapa produk yang biasanya ada pada sebuah blog kecantikan. Karena blog gue bukan blog kecantikan (atau belum :D). Karena gue juga ga cantik buat kebanyakan orang :D

Tulisan gue kali ini mungkin berbau perempuan banget. Tapi kalau Anda laki-laki, tidak ada salahnya membaca. Siapa tahu kalian jadi mengerti jalan pikiran perempuan. Kan berguna buat yang sedang dalam masa PDKT atau yang ingin melanggengkan hubungan percintaannya atau bahkan yang sedang berencana melakukan operasi transgender perempuan :p

Jadi... ini tentang salah satu perlengkapan make up perempuan yang paling mudah digunakan yaitu lipstick. Waktu gue masih kecil, gue paling seneng liat nyokap gue dandan pas bagian pakai lipstick.

“Itu ajaib banget! Bibir kita bisa jadi merah,” – Fai Prasida (10 th)

Butuh waktu sampai gue ada di semester 3 perkuliahan untuk bisa memiliki lipstick gue sendiri (ga minjem nyokap). Pada saat itu gue mulai bisa nyari duit sendiri. Sebenarnya gue bukan tipe perempuan yang doyan dandan apalagi make up-an, bedakan aja udah syukur kalo sempet. Tapi kalo kerjaan gue tiap hari ngeliatin katalog perlengkapan make up, gue bisa apa??? Gue kan masih seorang perempuan. Perempuan biasaaa :D

Lipstick pertama gue itu shades-nya merah, ini berdasarkan rekomendasi dari nyokap gue yang emang suka lipstick shades merah. Tapi lipstick-lipstick gue selanjutnya kebanyakan shades-nya pink, ada juga beberapa yang shades-nya nude. Yaa menyesuaikan warna kulit gue yang gelap ini lah :D

Lipstick-lipstick???

Iya. Jadi bibir gue cuma ada satu, jumlah hari dalam seminggu cuma ada 7, tapi jumlah lipstick gue lebih dari itu. Di sinilah gue sadar, kalau gue udah terlalu cinta sama si racun warna-warni ini. Dan biarpun gue sadar, gue masih seneng liat review dari para blogger kecantikan atau iseng liat gambar-gambar lipstick di IG adek gue. Terus akhirnya kepingin dan beli. Namanya juga terlalu cinta :’D

Gue ga ngerasa sendirian. Karena ternyata perempuan suka ngoleksi lipstick itu wajar. Ini terbukti saat gue magang di BI [baca ceritanya disini] dan kita sharing soal perlengkapan make up, mereka pun pasti punya lipstick lebih dari 1. Bahkan gara-gara mereka gue beli 2 perlengkapan make up baru, itung-itung kenang-kenangan hasil jerih payah gue magang di BI sih hehe.

“Jadi kamu emang punya anggaran sendiri yaa buat beli perlengkapan make up???” – DS (laki-laki, 21 th).

“Engga ko. Mas, perempuan ngeliat lipstick itu ibarat anak kecil ngeliat krayon.” – Fai Prasida (19 th).

Sekian dan terimakasih :D :D :D

 

#pssst,lotaulahyaakadoapayangbakalgueterimadenganmataberbinar-binardanhatiberbunga-bunga;)