Senin, 03 Oktober 2016

Seperti Malam

Seperti malam yang siap dilupakan ketika pagi menyapa

Seperti itulah aku melihat diriku di matamu

Kau mudah melihat yang lain

Kau mudah menemukan yang lain

Maka ketika kau menjatuhkan pilihan padaku

Coba tatap mataku dalam-dalam, apa yang bisa kau lihat di sana?

Coba sentuh aku perlahan, apa yang tanganmu rasakan terhadapku?

Coba dengarkan baik-baik hatimu, apa aku memang yang sudah membuatnya bergetar?

Apa iya itu aku yang membuatmu berhenti berdetak saat kukunci matamu dengan pandanganku?

Rasakan dengan yang lain...

Ceritakan padaku apa yang mereka tak bisa tapi aku bisa

Maka ketika kau menjatuhkan pilihanmu padaku

Maka aku harus selalu siap

Jika saatnya tiba aku dilupakan olehmu

Tertanda,
Cinta diam-diam

Selasa, 20 September 2016

Teduh Padamu

Coba tebak suara apa yang sekarang begitu dihapal dan dirindukan oleh telingaku?

Coba kau tebak pula sosok pemilik suara indah itu?

Tebaklah sampai kau puas...

Karena hanya boleh aku saja yang tau dirinya

Yang jelas setiap mataku berhasil menangkap sosoknya, aku merasa dapat berteduh padanya dari segala angkara murka alam semesta

Terimakasih, aku teduh padamu!

Senin, 19 September 2016

-

Pada matahari pagi yang dengan setia memancarkan cahayanya dan pada angin yang selalu punya kesempatan untuk mengelap bulir-bulir keringat di wajahnya

Entah konspirasi macam apa yang tengah kalian lakukan

Tapi aku cemburu

Ia hanya berkedip, namun mampu menghentikan waktu yang sedang berputar

Kemampuannya menarik kedua otot pipinya untuk tersenyum begitu mengagumkan

Ia bagai medan magnet, menarikku untuk selalu memperhatikannya

Ingin rasanya aku pasrah pada medan magnet yang ada pada dirinya

Tertarik ke arahnya dan mengambil kesempatan untuk mencium bau tubuhnya

Lalu membisikkan semua kalimat yang selama ini bersarang di hati

Tapi bukan untuk jatuh ke lubang yang sama

Hanya sekedar kau tahu aku dan akhirnya bukan hanya aku yang merenungi kisah kita

Jumat, 02 September 2016

Kasus Spesial Sahabatku


Malam ini untuk kesekian kalinya sahabatku mengirimiku pesan lagi
Merengek-rengek tentang dirimu yang telah menjungkir balikan hatinya
Katanya, kau telah berhasil menyita pikirannya siang dan malam

Ketika malam keesokan harinya tiba...
Sesuai dengan prediksiku sahabatku merengek lagi padaku lewat pesan
Kali ini ia bertanya, apa maksudmu berperilaku seakan-akan kau mencintainya?

Sahabatku berbicara banyak tentangmu malam ini...
Tentang pikirannya yang begitu mudahnya kau kuasai dengan senyumanmu
Tentang hatinya yang begitu mudahnya kau goyahkan dengan suaramu saat menyebut namanya
Tentang detak jantungnya yang tak mampu ia kontrol dengan baik saat kau menggodanya
Karena itu...
Jari-jarinya selalu saja mengetikkan namamu dalam kolom pencarian di sosial media
Matanya selalu mencari kesempatan melihat wajahmu di dalam foto-fotomu
Lehernya tak mampu jika tak menoleh ke arahmu hanya untuk melihat kau membalas tatapannya dan tersenyum
Langkah kakinya pun ia tahan sekuat-kuatnya agar tak selalu menghampirimu

Dan sahabatku selalu menunggumu untuk menghubunginya
Hanya untuk memastikan kalau setiap perilakumu terhadapnya mencerminkan perasaanmu kepadanya
Dia tak pernah absen untuk mengecek kapan kamu membuka sosial media-mu
Dia tak mampu untuk memulainya lebih dulu
Karena dia terlalu bingung dengan pasangan yang ada di sisinya
Dia pun terlalu bingung menghadapi pasangan yang ada di sisimu

Yaa, sahabatku sudah gila karena mencintaimu

Kamu telah membuatnya merasakan sebuah perasaan cinta yang tak terbalaskan
Perasaan yang belum pernah diberikan siapapun pada sahabatku ini
Karena sebelum kamu, sahabatku selalu mampu membuat siapapun tertarik padanya
Tapi sepertinya kamu kasus spesial sahabatku

Tenang saja, dia akan baik-baik saja

Jumat, 19 Agustus 2016

Sedikit Pengorbanan, Mengapa Tidak?

Sebuah perasaan senang selalu mengetuk pintu hati saya ketika diri saya sadar bahwa saya akan segera memasuki suatu dunia baru. Dimana di tempat tersebut, saya dapat membangun sebuah lingkaran pertemanan yang baru dengan latar belakang yang pasti berbeda-beda. Keyakinan untuk diterima di lingkaran pertemanan yang baru pun begitu kuat.

Terbayang banyak hal menyenangkan, info, wawasan, dan lainnya yang dapat saya bagi dan saya terima di lingkaran pertemanan baru itu. Dan sejauh ini yang paling saya senang lakukan ketika menemukan teman baru adalah memahami karakter mereka dan hal apa yang harus saya lakukan untuk membuat mereka juga menyukai saya. Saya melakukan begitu banyak seni untuk memahami karakter mereka yang unik, karena karakter orang yang satu pasti berbeda dengan orang lain.

Tapi terkadang sebersit kekhawatiran muncul dalam bentuk sebuah pertanyaan yang selalu mampu muncul dalam benak hati, tapi tak mampu diungkapkan secara lisan sedetikpun.

Akankah mereka mengingat saya ketika kami sama-sama sibuk dalam perjalanan menggapai sebuah kesuksesan?

Pasti teman-teman pembaca, pernah merasakan hal ini pula.

Ketika teman-teman semasa sekolah dulu, mulai sibuk dengan perjuangannya masing-masing dan mulai sulit untuk ditemui.

Selalu saja ada alasan yang membuat mereka tidak dapat menemui saya. Minggu ini, acara keluarga. Minggu depan, tugas kuliah. Minggu depannya lagi, ada shift kerja. Bulan depan, ada jadwal nonton konser idolanya. Selalu begitu, sampai saya merasa bahwa hanya saya yang berjuang untuk menjaga sebuah tali silaturahmi ini. Hingga saya merasa, apa hanya saya yang tidak sesibuk mereka?

Ketika saya ingin menemui teman lama, saya merelakan beberapa hal. Walau itu hanya sekedar waktu istirahat saya. Menurut saya, itu tak apa. Karena ketika saya menginginkan suatu hal, memang harus ada sesuatu hal lain yang dikorbankan. Hidup semudah itu kok.

Saya bahkan pernah bertemu dengan teman lama di Tangerang ketika saya baru beberapa menit sampai di Tangerang setelah perjalanan dari Jakarta mengenakan angkutan umum. Atau sebaliknya ketika saya ingin bertemu teman di Jakarta, maka saya harus rela memundurkan waktu saya untuk pulang ke Tangerang.

Ketika saya sudah merencanakan weekend saya untuk mengerjakan tugas kuliah, dan tiba-tiba teman lama meminta untuk bertemu pun, saya akan lebih memilih untuk bertemu dengan teman lama saya. Tugas bisa nanti, pikir saya.

Hanya sekedar waktu bertemu untuk saling menyapa dan menanyakan kabar yang saya minta. Teknologi memang sudah canggih. Tapi bertatap muka dengan teman lama adalah hal yang bisa membuat saya sangat senang. Mungkin ini sebab saya adalah seseorang dengan atribut pemikiran sosial hehe.

Jadi percayalah sahabat, yang sibuk bukan hanya kamu. Jika kamu mau dan sungguh berniat menemui teman lamamu yang ada di luar negeri sekali pun akan menjadi hal yang mudah untuk dilakukan. Sedikit pengorbanan, mengapa tidak???

Selasa, 19 April 2016

Cerita KKN Part 2 ~ Gadis Pemberani

“Teh, mau saya cariin tumpangan motor buat ke atas?” tawar salah satu dari mereka ketika mendengar suara motor yang akan melintas di jalur yang kami lewati. ketika itu kami tengah berada di tengah hutan yang masih asri. Tidak ada orang selain kami dan beberapa pengendara motor yang sesekali lewat. Gue menggeleng walaupun tawaran itu begitu menggoda.

“Bentar lagi sampai, Teh. Ayo semangat, Teh!” sorak yang lain.

Beberapa menit kemudian, barulah gue memiliki tenaga untuk kembali melanjutkan perjalanan. Ternyata ga berapa lama kemudian, kami sampai di ‘pintu masuk’ Curug Gendang. Iya pintu ini sifatnya gaib, tak terlihat.

Gadis-gadis ini menuntun kami untuk berjalan dengan 1 barisan karena jalan yang akan kami lalui adalah jalan setapak. Yah jalan setapak yang cukup licin bagiku efek pakai croks botak. Tanaman atau apapun yang berada di sisi kanan jalan setapak ini menjadi sasaran empuk gue untuk berpegangan. Karena di sebelah kiri jalan setapak, tepat jurang menganga lebar siap memangsa jikalau kami tak hati-hati.

Percayalah. Jika waktu bisa diulang kembali, gue bakal lebih memilih istirahat di rumah daripada menantang maut kayak gini. Apalagi berkali-kali gue kepeleset dan hampir jatuh. Kesel. Iya kesel. Kenapa ini jalanan licin banget. Kenapa ini sendal botak. Kenapa huhuhu.

“Ayo, Teh ikutin saya. Saya pegangin,” gadis dengan baju berwarna biru ini menawarkan diri dan langsung memegang tangan gue untuk dituntun. Gadis ini bahkan mengambil posisi di sebelah kiri gue, yang artinya jika gue ga sengaja terpeleset, gadis ini yang akan jatuh duluan. Dia melindungi gue seperti ini dan membuat gue merasa mengenalnya sudah lama.

“Ini Teh injek batunya,” atau “Ini teh yang ga licin” atau “Ini Teh jangan yang itu licin,” atau “Teh awas jangan pegangan yang itu ada durinya,” adalah nyanyian sepanjang gadis ini menuntun gue. Haru bener deh. Karena dia begitu memerhatikan kemalangan gue dan memutuskan membantu gue padahal beberapa kali gue menemukan nada getir cemas di dalam suaranya.

Alhamdulillah kami sampai di tempat tujuan dengan selamat. Ajaibnya, ketika mata gue bertatapan dengan si air terjun, lelah gue seketika hilang. Satu per satu teman gue mulai masuk ke air terjun, gue jadi orang kesekian yang akhirnya memutuskan untuk ikut terjun. Dengan bawelnya gue memanggil nama Oca untuk menuntun gue yang pada akhirnya berada di dekat Oca justru 'merugikan' gue, karena di akhir permainan air kami Oca sempat panik dengan derasnya arus yang diciptakan oleh air terjun dan dia mendorong gue ke dalam air. Bagus. Beruntung gue orangnya sabar wkwk.

Sebenarnya gue gabisa untuk ga merasa cemas memikirkan nasib gue keluar dari curug ini. Berharap cemas gadis dengan baju biru itu, mau menuntun gue kembali, setelah tahu betapa merepotkannya menuntun seorang gue. Beruntung, ketika teman-teman gue mulai siap untuk menuruni jalan setapak, si gadis baju biru dengan sigap berada di dekat gue. Gue merasa aman saat itu walau hanya diawasi oleh gadis yang jauh lebih muda dan lebih kecil dari gue.

Lagi dan lagi, terpeleset karena sandal yang gue pakai licin di bagian dalam dan luar. Melihat itu gadis dengan baju biru memegangi lengan gue. Gadis lainnya menawarkan diri untuk memakai sandal gue yang super licin dan membiarkan gue memakai sandalnya yang tidak licin. Gue menyetujuinya

Perjalanan pulang tetap tidak kalah serunya dengan perjalanan saat berangkat tadi. Karena gue harus bolak-balik bertukar sandal dengan gadis baju biru karena sandal gue licin. Begitu kami bertukar sandal dan sandal yang gue pakai kembali licin, sandal yang ada padanya sudah siap dipakai dan keadaannya pun tidak licin. Jadi pertanyaannya, ada apa dengan kaki gue???

Belakangan gue tahu gadis dengan baju berwarna biru namanya Samnah. Gadis cantik khas suku sunda nan pemberani. Begitu ramah dan berjiwa sosial. Dengan selamatnya nyawa gue berkat banyak bantuan Samnah, di hari-hari berikutnya gue semakin dekat dengan Samnah.

Sampai Samnah berhasil membuat gue menjadi orang terakhir yang naik di bus penjemputan mahasiswa KKN UNJ. Samnah tak kunjung berhenti menangis, terlihat begitu takut dilupakan. Samnah, mana bisa Teteh lupa sama Samnah???

This part I wrote for you, Samnah. Adik Teteh yang paling pemberani. Semangat sekolahnya, cepet lulus, cepet ke Jakarta, Teteh siap jadi Tour Guide pribadi-nya Samnah di Jakarta. Sehat terus yaa Sam! Teteh sayang sama Samnah...

Cerita KKN Part 1 ~ Curug Gendang

Sebagai mahasiswi dari jurusan Pendidikan Administrasi Perkantoran di Universitas Negeri Jakarta, Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu program kuliah yang harus gue terima dengan penuh rasa ikhlas. Sebulan harus tinggal di daerah terpencil yang gatau gimana sinyalnya, bakal tinggal di rumah yang seperti apa, lingkungan yang seperti apa, teman seatap yang seperti apa. Semua hal itu sedikit membuat gue takut dan berharap bisa meng-skip KKN.

Tapi semua ketakutan gue hilang seketika begitu gue tau desa apa yang gue tempatin. Desa Sukarame di Kecamatan Carita, Kab Pandeglang, Banten, yang ternyata merupakan desa dengan banyak tempat wisata. Belum lagi tempat tinggal gue selama di Sukarame yang super nyaman dan dapet bonus kelucuan Ica -cucu dari pemilik rumah- hehe.

Mau ke pantai??? Tinggal nyebrang ke depan rumah. Mau ke sawah??? Di belakang rumah ada. Mau ke bendungan??? Atau mau ke air terjun??? Ada semua di sini hehe. Alhamdulillah rezeki anak salehah haha.

Minggu kedua ada di Sukarame, gue dan teman satu kelompok berencana pergi ke air terjun di Sukarame namanya Curug Gendang sebagai refreshing setelah lelah mengerjakan program. Kami janjian buat pergi bareng dengan anak-anak SMP dari Yayasan Al-Musyarafah.

Yap kalau gue gak salah, ini adalah perjalanan wisata outdoor gue yang ke-2 tanpa orangtua gue. Tapi ini jelas lebih menantang karena orang di luar Banten mungkin tidak mengetahui lokasi wisata Curug Gendang ini. Sekaligus merupakan tempat wisata yang berada di pedalaman Carita yang mungkin petugas-petugasnya pun tidak begitu mementingkan keselamatan pengunjung. Maklum.

Kami berangkat sekitar pukul 10 pagi dan ternyata anak-anak SMP yang pergi bersama kami semuanya perempuan. Ada juga beberapa diantara mereka yang baru pertama kali ke Curug Gendang. Kami diwanti-wanti oleh pemilik rumah dan tetangga sekitar agar jangan sampai terpisah, sepakati waktu istirahat, turuti pantangan yang ada di sana. Mereka bilang lokasi wisata ini masih sakral.

Gue dengan pede-nya dan memang sudah khas gue, gue pakai sepatu sandal croks coklat kesayangan gue yang udah botak bin dekil. Perjalanan yang ditempuh sekitar 6-9 km membuat kami mencuri kesempatan untuk mengobrol dengan anak-anak perempuan SMP ini, atau selanjutnya sebut saja gadis-gadis.

Gadis-gadis ini cukup perhatian dan mereka memiliki jiwa sosial yang patut diacungi jempol. Apalagi saat gue -anggap saja yang terlemah- megap-megap kehabisan napas karena jalanan menanjak yang super sadis. Gue pun sangsi bisa lewat jalan tanjakan itu kalau Oca -temen 1 kelas gue- gak nuntun, atau geret, gue pakai ranting. Jangan dibayangkan jalanannya mulus, jalanan ini sebenarnya merupakan kaki bukit yang sudah dibuat jalur oleh warga sekitar. Gue merasa menang melewati kaki bukit itu walaupun masih dalam keadaan megap-megap kehabisan oksigen dan belum bisa melanjutkan perjalanan. Gadis-gadis ini begitu semangat sampai menularkan semangatnya ke gue. Sayangnya, rasa semangat yang mereka tularkan ke gue ga direspon baik sama kondisi fisik gue. Mereka bahkan rela beristirahat setiap gue bilang, “ntar dulu ga kuat,” lalu duduk sambil memijit kepala gue.

Gadis-gadis ini mungkin tak tega melihat gue yang ga karuan keadaannya. Apalagi ga ada cowok yang ikut ke Curug Gendang bersama kami. Raut wajah beberapa diantara mereka mulai cemas. Entah mencemaskan keadaan gue atau mencemaskan kapan mereka akan sampai di tujuan karena keberadaan gue memang memghambat perjalanan mereka. Wkwk.

Bersambung... ;)